KEYNESIAN

“It seems to me that economic is a branch of logic: a way of thinking… One can make some quite worthwhile progress merely by using axioms and maxims. But one can not get very far except by devising new and improved models. This requires… vigilant observation of the actual working of our system. Progress in economics consists almost entirely in progressive movement in the choice of models” (Keynes, 1938).

Dalam sebuah kutipan surat dari Keynes kepada George Bernard Shaw, mengindikasikan bahwa Keynes tengah menulis sebuah buku yang dapat merevolusionerkan teori-teori ekonomi dimana likuiditas dan uang memainkan peranan yang dominan dalam mengatur proses produksi dan transaksi.

Selama lebih dari dua dekade setelah Perang Dunia ke-2 kebanyakan ekonom yang berpengaruh meyakini bahwa mereka telah mengajarkan murid-murid mereka tentang teori ekonomi revolusioner Keynes serta dampak dari kebijakan ekonomi tersebut. Bahkan pada tahun 1971 seorang presiden Amerika Serikat Richard M. Nixon menyatakan bahwa “now I am a Keynesian”.

Meskipun begitu, akhir-akhir ini pengajaran teori-teori ekonomi Keynesian hanya sebatas sebuah pengantar paling tidak di sebagian besar buku diktat yang membahas teori-teori ekonomi.

Penulis biography Keynes, Lord Skidelsky (1992, p.512) mencatat bahwa “mainstream economist after the second World War treated Keynes’s theory as a ‘special case’ of the classical theory, applicable to all conditions where money wages… were ‘sticky’. Thus his theory was robbed by it’s theoretical bite, while allowed to retain it’s relevance for policy”. Jika teori Keynes yang menerangkan bahwa tingkat pengangguran merupakan hasil dari tingkat harga dan pendapatan tetap, maka teori Keynes bukanlah suatu hal yang baru ataupun revolusioner. Karena pada abad ke-19 ekonom klasik telah berargumentasi bahwa tidak fleksibelnya tingkat harga-harga dan pendapatan merupakan kunci dari adanya pengangguran.

Sedangkan Keynes secara spesifik menyangkal bahwa dasar dari adanya pengangguran adalah pendapatan dan atau harga-harga yang tidak fleksibel. Di dalam The General Theory yang ditulis oleh Keynes (1936, p.257): “the classical theory has been accustomed to rest the supposedly self-adjusting character of the economic system on an assumed fluidity of money wages; and when there is rigidity, to lay on this rigidity the blame of maladjustment… My difference from this theory is primarily a difference of analysis”. Dengan mengutip pernyataan Keynes tersebut, atas dasar apa para ekonom beranggapan bahwa teori Keynes membutuhkan sticky wages, prices, atau bahkan perangkap likuiditas yang absolut (fixed minimum interest rate) untuk mendeskripsikan/mendemonstrasikan adanya tingkat pengangguran yang tidak diharapkan?

Seorang bijak pernah berkata definisi dari “klasik” adalah sebuah buku dimana semua orang dapat mengutipnya meskipun tanpa harus membacanya. Para ekonom berpengaruh yang menyebut dirinya “Keynesian”, namun masih menambahkan atribut tingkat pengangguran kedalam pendapatan, tingkat price ataupun tingkat kebutuhan yang kaku, pastinya berpikir General Theory milik Keynes sebagai sebuah literatur klasik yang dapat mereka kutip tanpa harus “membacanya” atau memahaminya sebagai suatu teori moneter. Saya sendiri bukanlah seseorang yang secara khusus mendalami teori Keynesian, tapi saya sadar betul untuk tidak memberi suatu argumen yang saya sendiri belum memahaminya agar tidak terjadi suatu validitas argumentasi atas dasar kesepakatan bersama saja karena kurangnya pemahaman.

Lalu revolusioner macam apa yang terdapat dalam kerangka analisis Keynes? Beberapa mempercayainya sebagai sebuah konsep multiplier. Namun jika itu benar maka sebaiknya kita menamakannya sebagai Kahnian revolution karena adalah murid dari Keynes, Richard Kahn yang memperkenalkan konsep multiplier.

Terlepas dari paragraf di atas, revolusi Keynesian terjadi dalam waktu singkat. Para generasi muda dan cerdas, beralih dari mazhab Austria ke Keynesian. Milton Friedman yang kelak menjadi oponen teori Keynes, mengatakan, “Bertentangan dengan gambaran muram [ajaran laissez faire Austria], kabar yang tiba dari Cambridge (Inggris) tentang interpretasi Keynes terhadap depresi dan kebijakan untuk memulihkannya adalah seperti secercah cahaya dalam kegelapan. Keynes menyediakan diagnosis atau depresi tersebut yang hasilnya menimbulkan harapan. Yang lebih penting, ia memberikan obat yang lebih langsung, efektif, dan tidak menyakitkan dalam bentuk defisit anggaran. Jadi dari sini dapat diketahui mengapa orang-orang muda yang berpikiran kuat dan baik tertarik dengan pandangan tersebut” (1974:163).

Model manajemen permintaan agregate Keynesian diterima di kalangan ekonom lebih cepat ketimbang revolusi marginalis, khususnya setelah Perang Dunia II tampak menunjukkan bahwa masih ada manfaat dari pengularan defisit dan pengeluaran yang masif oleh pemerintah. Tak lama kemudian para profesor di perguruan tinggi, di bawah pimpinan Alvin Hansen, Paul Samuelson, Lawrence Klein, dan murid-murid Keynesian lainnya mulai mengajarkan kepada para mahasiswa mengenai fungsi konsumsi, multiplier, kecenderungan (propensity) marginal untuk mengonsumsi, paradoks penghematan, permintaan agregat, dan C+I+G. “Ini adalah doktrin baru yang aneh” (Mark Skousen, 2001:398).

Para pengkritik memandang ilmu ekonomi Keynesian sebagai serangan langsung kepada nilai ekonomi tradisional, dan ancaman paling serius terhadap prinsip kebebasan ekonomi sejak Marxisme. Bagi mereka General Theory Keynes “merupakan serangan paling halus dan jahat dalam bahasa Inggris terhadap kapitalisme otodoks dan kebebasan berusaha” (Hazlitt 1977:345). Karena Keynes mungkin telah memberikan cara memulihkan depresi yang masuk akal, tetapi teorinya juga menciptakan lingkungan yang mendukung intervensionisme negara, negara persemakmuran, dan kepercayaan kepada pemerintahan yang besar dan kuat (big government). Teorinya mendorong konsumsi yang berlebihan, pembiayaan utang, dan pajak progresif atas tabungan, anggaran berimbang dan pajak rendah.

Oleh karena itu memang benar jika dikatakan bahwa Keynesian merupakan penyelamat Kapitalis, tapi di lain sisi dalam prakteknya Keynesian juga menshahihkan beberapa dari teori-teori Marxisme, sehingga Keynesian dapat dikatakan bukanlah Kapitalis murni.

Perlu dicatat dulu bahwa meskipun Keynes dipuji sebagai penyelamat Kapitalisme, model dan rekomendasi kebijakan yang dikemukakannya sebenarnya merupakan serangan langsung terhadap sistem laissez faire Adam Smith. Keynes mengakui hal ini ketika dia mengatakan, “Tidak benar bahwa individu mempunyai ‘kebebasan alamiah’ dalam aktivitas ekonominya… Juga tak benar bahwa kepentingan diri umumnya adalah baik … Pengalaman tidak menunjukkan bahwa individu, ketika mereka berada dalam unit sosial, selalu lebih berpandangan jernih dibandingkan ketika merka bertindak sendirian” (Keynes 1963 [1931]:312). Pidato ini yang diberi judul “The End of Laissez Faire”, disampaikan pada tahun 1926, satu dekade sebelum The General Theory ditulis. Ini jelas serangan kepada sistem kebebasan alamiah Adam Smith.

I shall be telling this with a sigh, somewhere ages and ages hence: Two roads diverged in a wood, and I, I took the one less traveled by. And that has made all the difference.

Robert Frost (1920): The Road not Taken –

~ by Adi on October 29, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: